nidebo.us

media informasi permainan game online yang seru

Home » Converter

Tag: Converter

Mendiagnosis Kerusakan Catalytic Converter – Deltalube

Mendiagnosis Kerusakan Catalytic Converter

Kerusakan Catalytic Converter

Jika sehabis berkendara Anda mencium aroma telor busuk dari mobil, bisa jadi itu pertanda catalytic converter mulai mengalami kerusakan. Meski catalytic converter sudah lama digunakan di mobil-mobil yang dipasarkan, tapi banyak pemilik mobil yang tidak tahu apa yang harus diperhatikan ketika catalytic converter di mobilnya rusak.

Catalytic converter ini bekerja dengan memilah gas buang yang dihasilkan proses pembakaran di mesin. Beberapa jenis gas seperti nitrogen monoksida, karbon monoksida dan hidrokarbon yang tak terbakar adalah gas yang berbahaya bagi manusia dan menyebabkan asap. Posisinya berada di sistem knalpot sebelum muffler.

Setelah mesin dinyalakan, gas beracun itu menuju pipa knalpot dan melewati catalytic converter. Ruang dalamnya didesain seperti sarang lebah yang terbuat dari keramik yang dilapisi katalis seperti platinum, palladium dan tembaga. Dengan temperatur sekitar 420 derajat celcius, katalis mengubah gas beracun itu tadi menjadi oksigen, karbon dioksida dan air.

Lalu kenapa catalytic converter ini bisa rusak? Sebenarnya catalytic converter bisa bertahan seumur mobilnya. Tapi meski tangguh, secara perlahan lapisan katalis kian menipis.  Selain karena jarak tempuh tinggi, mesin yang bekerja tidak normal pun dapat membuatnya rusak. Seperti menggunakan busi yang sudah lemah, sistem pengapian yang buruk, kebocoran katup, atau bahan bakar yang keluar ke knalpot yang dapat terbakar dan membuat komponen catalytic converter meleleh.

Baca juga : knalpot kendaraan anda mengeluarkan asap hitam apa artinya

Catalytic converter makin cepat rusak akibat ring piston sudah aus, timing chain atau timing belt yang meleset dari pergerakannya. Bahan bakar dan udara bisa masuk ke area yang tidak seharusnya di mesin. Begitu pula jika ada kebocoran paking kepala silinder atau intake manifold, bisa menyebabkan oli mesin menempel di katalis.

Ketika beberapa hal itu terjadi, lampu indikator check engine akan menyala. Jangan sampai hal ini tak dihiraukan karena bisa jadi catalytic converter mengalami panas berlebih (overheat). Selain menyalanya indikator check engine, ada beberapa tanda kerusakan catalytic converter. Seperti munculnya bau sulfur yang menyengat, konsumsi bahan bakar makin boros, akselerasi makin pelan, dan sulit menyalakan mesin.

Ketika bau telor busuk mencuat artinya catalytic converter telah gagal mengubah gas buang dengan semestinya. Indikator lainnya adalah terdengar suara gemeretak dari catalytic converter seakan ada komponen di dalamnya yang lepas. Segera periksakan mobil ke bengkel untuk memastikan masalah ini dengan menggunakan scanner oleh ahlinya.

Desain catalytic converter memang terus dikembangkan dan kini sudah makin efisien dan tangguh dibandingkan beberapa dekade lalu. Jika perlu melakukan penggantian, harganya pun sudah makin terjangkau, lebih tahan lama, dan tidak mengurangi performa mesin. Malah, mesin mobil modern saat ini sudah diset dalam performa terbaiknya dengan menggunakan catalytic converter. Melepasnya berarti mengurangi tenaga mesin maupun konsumsi bahan bakar.

Gejala Catalytic Converter Bermasalah – Deltalube

Di beberapa mobil modern yang beredar saat ini, sistem knalpot telah dilengkapi dengan catalytic conventer. Komponen tambahan di knalpot mobil ini umumnya dibuat untuk meredam polutan berbahaya yang terlepas ke udara dari hasil proses pembakaran mesin mobil. Sehingga mobil dengan catalytic converter menjadi lebih ramah lingkungan.

Kenapa bisa begitu? Catalytic converter yang terpasang rangkaian sistem knalpot mobil berfungsi untuk menyaring gas buang hasil pembakaran dan mengubahnya menjadi emisi yang lebih ramah. Memanfaatkan sebuah filter berukuran mikron, komponen ini mengubah gas buang berupa karbon monoksida (CO), hidrokrabon yang tidak terbakar (HC) dan nitrogen oksida (NOx) menjadi karbon dioksida (CO2), nitrogen (N2) dan uap air (H2O) yang lebih ramah lingkungan.

Karena fungsinya itu, catalytic converter bekerja dalam kondisi yang cukup ekstrem. Risiko mengalami kerusakan pun dapat terjadi, lantaran komponen ini sangat sensitif terhadap kontaminan berupa kotoran dari hasil proses pembakaran mesin.

Jika terdapat kotoran masuk, tentu dapat menyumbat catalytic converter. Biasanya hal tersebut disebabkan beberapa kondisi, seperti kualitas bahan bakar yang kurang baik, proses pembakaran yang tak sempurna, dan adanya kotoran yang masuk ke dalam ruang mesin melalui saluran suplai udara.

Baca Juga : Mendiagnosis Kerusakan Catalytic Converter

Catalytic converter yang tersumbat dapat menyebabkan performa akselerasi mobil menurun dan berisiko mogok. Gejala yang dapat dirasakan ketika catalytic conventer mengalami masalah, seperti mobil tak dapat melaju kencang meski pedal gas diinjak penuh. Hal itu membuat konsumsi bahan bakar lebih boros seperti biasanya.

Gejala lain yang mungkin muncul adalah munculnya suara berderak dari kolong mobil. Suara itu muncul akibat kerusakan konstruksi internal catalytic converter. Jika dibiarkan, suara itu akan makin keras.

Jika catalytic converter bermasalah, bisa mengaktifkan indikator check engine di panel instrumen untuk menyala. Sebaiknya lakukan pemeriksaan di bengkel. Karena indikator tersebut bisa saja disebabkan kerusakan komponen lainnya. Tapi jika ternyata catalytic converter yang bermasalah, disarankan untuk menggantinya dengan yang baru dan tidak mengakalinya.

Deteksi Kerusakan Transmisi Mobil Matic Jenis Torque Converter

Mobil transmisi otomatis, kini semakin digemari. Secara umum, transmisi matik terbagi menjadi dua. Transmisi matik dengan gigi tranmisi yang dikendalikan oleh kopling fluida atau torque converter, dan matik jenis CVT yang mengandalkan rasio pergerakan pulley.

Transmisi model torque converter masih lebih banyak populasinya di Indonesia dibanding CVT, karena boleh dibilang matik jenis torque converter yang lebih dulu muncul ke pasaran. Bagi kalian pengguna mobil matik jenis torque converter, berikut kami akan bagikan tips cara mendeteksi Kerusakan Transmisi Mobil Matic

Perpindahan Gigi Menyentak

Jika perpindahan gigi terasa menyentak, kemungkinan terjadi kerusakan baik pada sektor mekanis atau elektris. Bila mobil menggunakan matik jenis elektris, cara mendeteksinya dengan colok engine scanner pada soket OBD, kerusakan pada komponen matik biasanya langsung muncul pada layar engine scanner. Jedug pada matik elektrik biasanya akibat dari solenoid pressure atau sensor speed TCM. Jika masih matik manual, biasanya kerusakan terjadi pada seal piston matik yang mulai mengeras sehingga oli matik bocor. Jika sudah bocor, tekanan oli matik akan tidak cukup kuat untuk mengoper gigi pada rpm yang sesuai, sehingga terasa menyentak. 

Mobil Bergetar Ketika Mulai Dijalankan

Hal ini biasanya terjadi akibat dari kondisi baik pelat maupun kampas kopling, yang sudah buruk. Biasanya hal ini terjadi karena kampas kopling gosong. Permukaan kampas kopling yang gosong itu seperti arang, jadi bisa mudah terkikir ketika bergesekan dengan plat kopling dan menjadi tidak rata.

Transmisi Tidak Bisa pindah Dari Gigi Tiga

Jika transmisi matik tidak bisa beranjak naik atau turun dari gigi 3, jangan panik.

Kondisi tersebut dinamakan Limp Mode atau Safe Mode. Limp Mode terjadi karena TCM membaca sejumlah error pada sensor yang berpotensi merusak sistem transmisi. Jadi transmisi mobil hanya bisa di posisi 3 atau netral. Limp Mode, biasanya diiringi dengan munculnya lambang engine check di panel instrument. Jika mengalami Limp Mode, segera arahkan mobil ke bengkel terdekat untuk diperiksa, karena mengemudi dengan kondisi Limp Mode sangat tidak disarankan! 

Tidak Bisa Mundur

Jika hal ini terjadi, bisa disebabkan pada bagian elektrikal atau mekanikal gigi mundur yang bermasalah. Jika mobil masih menggunakan matik mekanis, kerusakan ini biasanya terjadi akibat tuas return shift gigi patah atau rasio final drive mundur rusak. 

Tidak Bisa Pindah Gigi

Biasanya kasus ini terjadi ketika tidak bisa memindahkan tuas transmisi dari posisi Park (P) ke posisi lainnya (R, N, D, S, 2, 3). Kondisi ini terlihat mengerikan, ternyata hal ini bisa terjadi karena masalah sepele. Biasanya gejala gigi tidak bisa pindah disebabkan oleh switch rem rusak. Switch rem rusak menyebabkan transmisi matik mendeteksi pengendara tidak menginjak rem, sehingga transmisi tidak bisa berpindah dari posisi Park.

Tuas Transmisi Bisa Digeser, Tapi Gigi Tidak Berpindah

Hal ini juga disebabkan oleh hal sepele. Masalah itu terjadi, biasanya disebabkan kabel untuk menggeser lengan selektor di girboks putus. Jadi meski tuas transmisi digeser, gigi tidak masuk karena lengan selektor girboks tidak ikut bergerak ketika tuas transmisi digeser.

Baca Juga : Waspadai Gejala Akibat Berkurangnya Oli Transmisi

Pemilihan oli transmisi matik juga sangat berperan pada keawetannya. Gunakan spesifikasi oli matik sesuai rekomendasi pabrikan. Untuk mobil yang menggunakan spesifikasi Dexron III, bisa pakai Deltalube 799 ATF yang sudah diformulasikan khusus untuk menjaga keawetan transmisi matik mobil kalian.

Alasan Kenapa Catalytic Converter Mobil Jadi Incaran Maling

Kasus pencurian catalytic converter belakangan ini kian marak. Meski catalytic converter terpasang pada sistem knalpot mobil dan motor, rata-rata korbannya adalah para pemilik mobil. Kenapa demikian? Hal itu disebabkan catalytic converter pada mobil yang berupa komponen tersendiri, sehingga bisa dilepas secara terpisah. Hasilnya, ya tentu lebih mudah dicuri. Beda dengan catalytic converter pada sepeda motor yang menyatu dengan keseluruhan knalpot, sehingga lebih menyulitkan pada proses pencuriannya.

Lantas kenapa catalytic converter mobil, begitu berharga dan jadi incaran maling? Sebelum itu, kita bahas sedikit mengenai apa itu catalytic converter dan fungsinya pada kendaraan.

Catalytic converter yang terpasang rangkaian sistem knalpot berfungsi untuk menyaring gas buang hasil pembakaran dan mengubahnya menjadi emisi yang lebih ramah. Memanfaatkan sebuah filter berukuran mikron, komponen ini mengubah gas buang berupa karbon monoksida (CO), hidrokrabon yang tidak terbakar (HC) dan nitrogen oksida (NOx) menjadi karbon dioksida (CO2), nitrogen (N2) dan uap air (H2O) yang lebih ramah lingkungan.

Baca Juga : Gejala Catalytic Converter Bermasalah

Setelah mesin dinyalakan, gas buang yang beracun itu menuju pipa knalpot dan melewati catalytic converter. Ruang dalamnya didesain seperti sarang lebah yang terbuat dari keramik yang dilapisi katalis seperti platinum, palladium, dan rhodium. Dengan temperatur sekitar 420 derajat celcius, katalis itu mengubah gas beracun itu tadi menjadi oksigen, karbon dioksida dan air.

Nah, kandungan platinum, palladium, dan rhodium ini lah yang diincar para pencuri. Ketiga logam ini memiliki harga yang selangit. Harga per ons platinum saat ini, bisa mencapai 906 Dolar AS atau sekitar Rp 13 jutaan. Sementara palladium lebih mahal lagi, yaitu mencapai 1.800 Dolar AS atau setara Rp 26 jutaan per onsnya. Rhodium jadi yang paling mahal, dengan harga per ons menyentuh harga 14.000 Dolar AS atau setara Rp 207 jutaan! Pantas saja jadi incaran maling.

Kembali ke atas