nidebo.us

media informasi permainan game online yang seru

Home » Control

Tag: Control

Amankah Pakai Traction Control? – Deltalube

Amankah Pakai Traction Control?

Amankah Pakai Traction Control?

Tak ada salahnya mengenal traction control lebih jauh sebagai salah satu teknologi keselamatan sebelum membeli mobil. Banyak pemahaman salah arah yang beredar mengenai Traction Control yang telah menjadi fitur standar mobil di berbagai negara ini. Lantas bagaimana penjelasan yang tepat mengenai traction control?

Banyak fitur pada mobil modern yang dioperasikan secara elektris dan memanfaatkan sensor. Tak terkecuali dengan traction control. Fitur keselamatan ini memanfaatkan sensor kecepatan, sama dengan yang digunakan Anti-Lock Brake System (ABS) pada roda mobil.

Sensor ini mengukur perbedaan kecepatan putaran di tiap roda. Tujuannya untuk mendeteksi jika ada roda yang menerima tenaga dari mesin kehilangan cengkeraman pada permukaan jalan. Saat sensor ini mendapati satu roda berputar lebih cepat dari lainnya, sensor akan mengirim sinyal ke electronic control unit (ECU) untuk mengaktifkan rem pada roda tersebut. Putaran roda itu pun berkurang dan pada akhirnya mengurangi slip. Begitu roda itu mendapat traksi, rem dinonaktifkan dan sistem kembali memantau putaran roda.

Pada sistem lain, ada juga traction control yang mengontrol slip dengan mengurangi tenaga mesin ke roda. Uniknya, ketika sistem seperti ini aktif, akan terasa denyutan pada pedal gas seperti layaknya saat rem ABS aktif dan membuat pedal rem berdenyut. Sistem seperti ini membutuhkan tak hanya sensor pada roda, tapi juga sensor putaran transmisi dan bahkan sensor diferensial untuk mobil berpenggerak roda belakang.

Baca Juga : Memahami Fitur Vehicle Stability Control

Hal ini sangat membantu pengemudi tetap dalam kendali kemudi saat berakselerasi. Serta menjaga mobil tetap pada jalurnya dengan meminimalisasi putaran roda berlebih. Seperti ketika berakselerasi pada permukaan jalan licin saat hujan, jalan berpasir, jalan menanjak yang terjal, keluar dari tikungan atau dari kondisi berhenti. Jadi, direkomendasikan untuk selalu mengaktifkan fungsi ini ketika berkendara.

Namun tak sedikit yang beranggapan saat mobilnya memiliki Traction control, berarti dapat mencegah roda mobil terbenam saat melewati jalan berlumpur. Sayangnya anggapan seperti ini perlu diluruskan. Traction Control tidak memberikan kemampuan untuk menambah cengkeraman roda, sistem ini hanya membantu mencegah roda berputar berlebihan. Sehingga pada kondisi seperti itu, traction control harus dinonaktifkan.

Selain itu, fakta lain yang perlu diketahui adalah fungsi ini tidak sama dengan stability control. Jika traction control hanya dapat membantu untuk membatasi slip pada roda, stability control dengan sistem yang lebih rumit berfungsi membantu mobil agar dapat bermanuver lebih aman. Dengan kata lain, sistem stability control pasti melibatkan traction control, tapi sebaliknya tidak semua mobil yang memiliki traction control memiliki sistem stability control.

Memahami Fitur Vehicle Stability Control

Memahami Fitur Vehicle Stability Control

Vehicle Stability Control

Teknologi keselamatan yang disematkan di kendaraan terus berkembang untuk terus meningkatkan keselamatan penumpang. Beberapa fitur keselamatan pun diciptakan baik yang bersifat aktif maupun aktif untuk menekan potensi kecelakaan pengendara di jalan. Salah satu fitur keselamatan berkendara yang memiliki fungsi penting adalah vehicle stability control (VSC).

Penamaan sistem ini bisa berbeda antara produsen mobil. Ada yang menamai Electronic Stability Control (ESC) atau Electronic Stability Program (ESP), Dynamic Stability Control (DSC) atau Vehicle Stability Control (VSC). Tapi secara fungsi, tetap sama.

ESC dan VSC pertama kali muncul di mobil produksi massal untuk pasar otomotif dunia pada 1995. Sistem itu diperkenalkan secara berurutan oleh Mercedes-Benz, BMW, Volvo dan Toyota.

Sebagai fitur bantuan pengemudi, VSC merupakan salah satu fitur aktif yang dapat mereduksi kesalahan yang dilakukan pengemudi maupun menghadapi jalan yang kondisinya kurang bersahabat. Tujuannya menjaga pergerakan mobil tetap stabil.

Lebih mendetail, prinsip kerja VSC adalah menjaga kendaraan agar tetap stabil dan berada tetap jalurnya, ketika menikung atau berpindah jalur. Ketika gejala ban mulai selip atau kehilangan traksi akibat permukaan jalan yang licin atau berpasir, sistem VSC secara otomatis akan bekerja.

Caranya, dengan mereduksi transfer tenaga mesin ke roda tersebut dan mengaktifkan rem untuk mencegah ban slip. Sehingga pengemudi tetap dapat mengendalikan arah mobilnya sesuai dengan bentuk jalan.

Untuk bisa melakukan hal itu, sistem keselamatan ini secara aktif terus memonitor data dari sensor kemudi dan kecepatan putaran roda. Data awal yang diproses sistem adalah input sudut putaran kemudi yang dilakukan pengemudi. Jika ada putaran sudut kemudi yang mendadak berubah, semisal ketika belok dan ban kehilangan traksi, maka sistem VSC langsung bekerja.

Aktivasi sistem juga menggunakan data berikutnya yakni berasal roda saat kehilangan traksi. Bekerja sama dengan sistem Anti-Lock Brake System (ABS), kecepatan putaran roda pun direduksi secara bertahap hingga mendapatkan traksi kembali. Langkah itu dilakukan untuk menghindari bergesernya mobil ke samping atau tergelincir ketika belok.

Dengan aktifnya sistem keselamatan ini, mobil pun terhindar dari understeer atau oversteer ketika menikung akibat kesalahan putaran kemudi, permukaan jalan licin atau kecepatan yang terlalu tinggi. Sehingga terhindar dari kecelakaan di jalan. Beberapa klaim pun dirilis ke publik kalau sistem ini dapat mereduksi kecelakaan mobil tunggal sebanyak 35% untuk sedan dan 67% untuk SUV.

Di lain sisi, produksi mobil juga menyediakan opsi untuk menonatifkan sistem VSC ini melalui tombol. Umumnya, tombol diletakkan di dekat kotak sekring berdekatan dengan komputer VSC. Misalnya pada mobil sport yang juga dirancang untuk melahap sirkuit tertutup dengan kecepatan tinggi. Atau SUV digunakan melaju di lintasan tanah.

Dengan VSC non aktif, maka laju mobil sport tidak terhambat oleh sistem dan tidak memengaruhi teknik mengemudi si pengemudi. Karena bisa jadi, dengan menggeser mobil ketika menikung adalah cara pengemudi untuk dapat mencetak waktu tercepatnya.

 

 

Mengenal Fitur Cruise Control – Deltalube

Salah satu fitur bantuan bagi pengemudi yang sudah makin banyak digunakan adalah cruise control. Tak hanya tersedia di mobil premium, tapi fitur ini juga sudah digunakan di mobil dengan harga yang lebih terjangkau.

Cruise control adalah sistem yang dapat memberikan kenyamanan bagi pengemudi. Fitur ini berfungsi untuk mengatur kecepatan secara mandiri dan mempertahankan kecepatan. Untuk berkendara jarak jauh, fitur ini sangatlah membantu karena dapat mengurangi kelelahan pengemudi karena harus terus menginjak pedal gas.

Sistem cruise control dapat mengendalikan kecepatan mobil dengan mengatur posisi throttle (akselerator). Sistem mengoperasikan katup throttle menggunakan kabel yang terhubung ke actuator. Katup throttle itu mengontrol daya dan putaran mesin dengan membatasi jumlah udara yang masuk ke ruang bakar.

Pengemudi dapat menyetel cruise control via tombol atau tuas yang ada di area setir. Baik untuk menambah atau mengurangi kecepatan, dan menyala-matikan cruise control. Umumnya, sistem pengaturan cruise control memiliki beberapa tombol, seperti ON, OFF, Resume, SET/ACCEL dan COAST.

Untuk mengoperasikan, tombol SET/ACCEL digunakan untuk mengatur kecepatan kendaran. Setiap kali menekan dapat menambahkan laju kendaraan 1 km/jam. Menekan tombol itu dengan arah berlawanan, digunakan untuk menurunkan kecepatan. Ketika dibutuhkan, sistem cruise control bisa dinonaktifkan dengan menginjak pedal rem.

Baca Juga : Memahami Fitur Vehicle Stability Control

Namun, dengan makin bertambahnya jumlah kendaraan di jalan, membuat cruise control jadi jarang digunakan. Lalu muncullah Adaptive Cruise Control (ACC) yang lebih canggih. ACC adalah cruise control yang lebih pintar karena dapat memperlambat dan mempercepat kecepatan mobil secara otomatis untuk mengimbangi laju mobil di depan.

Sistem ini menggunakan sensor radar yang terletak di depan mobil untuk memindai mobil dan objek lain di depan mobil. Sinyal sensor digunakan sebagai input untuk mengatur kecepatan mobil sehingga mobil tetap berada 2-3 detik di belakang mobil depan.

Berdasarkan input dari sensor itu, komputer pun dapat mengukur jarak mobil di depan dan menghitung kecepatan relatifnya. Jika ada beberapa kendaraan yang terpindai sensor pada saat yang sama, secara otomatis komputer memilih kendaraan yang harus dilacak oleh sistem. Jika dibutuhkan, sistem dapat mengaktifkan sistem pengereman untuk memperlambat kendaraan. ACC dapat beroperasi siang atau malam. Tetapi kemampuannya bisa terhambat pada kondisi cuaca ekstrem, seperti hujan lebat atau kabut.

Kembali ke atas